About Loss
Kisah ini senyata napas yang aku hirup, senyata jantung dalam tubuhku yang masih berdegup. Tentang rasa rindu yang ternyata langsung dijawab dengan kabar pilu. Tentang hati yang berusaha kuat agar tak terjebak dalam lautan air mata sendu.
Ini gambaran tentang kehilangan.
Tentang sosok yang tak akan mungkin lagi kembali meski kau sangat ingin.
Tentang perginya suara detak jantung yang kau harap terus berdetak.
***
“Nak? ...”
Aku gelisah mendengar suara serak
itu. Tak biasanya ayah menelepon saat menjelang magrib seperti ini dan untuk
pertama kalinya aku melihat sisi lain dari sosok pahlawanku. Wajah yang mungkin
belum pernah aku bayangkan selama hidupku hingga detik itu. Namun, wibawanya tak
pernah hilang di mataku.
“Nak… Kakek…” Suara yang seakan
menyampaikan sendu, sebenarnya sudah berapa banyak air mata yang kau
sembunyikan dariku, Ayah?
“Nak, K-kakek…”
‘Kakek? Kakek kenapa?’
batinku. Aku membetulkan posisi dudukku di atas kasur.
Biar kuingat-ingat. Tadi pagi,
akhirnya kakek mau makan. Di dalam foto yang pamanku kirim, kakek jauh
kelihatan lebih segar dari biasanya. Ah, aku jadi kangen. Terbayang-bayang
candaannya, kisah-kisah yang ia bawa sambil duduk di tengah anak-cucunya.
“K-kakek udah gak ada, Nak…”
Aku mematung. Pikiranku seketika
kosong. Sepersekian detik yang lalu aku rindu, ternyata langsung dijawab dengan
kabar pilu.
“Siap-siap besok subuh kita berangkat
ke Padang naik pesawat ya, Nak… Kasih tau Kakak juga berangkat dari Bandung.” Belum
sempat aku mencerna, ayah sudah menutup panggilannya. Aku hanya bisa menjawab
‘iya-iya’ saja karena sebenarnya lidahku kelu.
‘Sebentar, gak mungkin
kan? Hah? Gak mungkin, dong? Tadi pagi kan kakek baik-baik aja?’
batinku.
Padahal ayah -sosok yang paling aku
percaya- yang langsung memberi tahu kabar itu padaku. Tapi, kenapa? Jiwa ini
seolah menolak kabar yang sudah jelas. Bahkan, aku berharap bahwa berita itu
hanya sebuah kebohongan. Rasanya aku tak mau percaya sampai melihatnya dengan
mata kepalaku sendiri.
Malam mulai menyapa, aku memeluk ayah
yang pulang dengan wajah sembabnya dan menyambut ibu yang tersirat kekhawatiran
dalam raut wajahnya. Ayah, aku baru memeluknya sekian detik. Namun, ia langsung
kembali tegap dan menutupi mata penuh tatapan pilunya itu. Ibu, wanita super nomor
satu dalam hidupku, sesampainya ia di rumah langsung sibuk mengurus sana-sini
dan memberi kekuatan pada ayah.
Dua jiwa kesayanganku itu, aku tahu
betul mereka sedang tidak baik-baik saja. Aku dapat merasakan kehilangan yang
mengalir dalam pelukan dan tatapan mata keduanya. Namun, aku yang terlanjur tak
mau percaya hanya diam saja. Bersikap sibuk mengurusi keperluan untuk berangkat
besok pagi. Berusaha menjadi dewasa, walau nyatanya aku hanya anak kecil yang
tak tau apa-apa. Usiaku dua belas tahun. Ya, aku sudah cukup mengerti hal
seperti ini. Tapi, kenangan bersama Kakek terlalu berharga untuk kunyatakan
bahwa sosoknya telah pergi.
Keesokan paginya, aku dan keluargaku
berangkat. Sampai di bandara kota Padang, aku melihat saudara jauh ayahku. Entahlah,
aku tak begitu sering melihatnya. Tapi, ia datang dengan air mata yang sudah
tumpah meruah. Bukan, bukan karena kakek tiada. Ia bahkan tak tahu kakek sudah
dipanggil Sang Kuasa. Kabar yang sampai di telinganya adalah kakek sedang
kritis dan harus ia jenguk segera.
Aku menerka-nerka, akan seruntuh apa
jiwanya saat tahu bahwa kakek pergi selamanya? Jujur saja, melihat sorot mata
pilu itu, aku jadi agak takut. Kenyataan seolah menyapa kabar duka yang sedari
awal tak mau aku percaya.
Sampai di depan rumah kakek, aku
dapat melihat bendera tanda kabar kematiannya. Namun, aku masih menolak.
Bayangan yang terbesit di benakku saat ini adalah kakek yang sedang duduk dan tersenyum
di atas kursi roda, lalu bersiap untuk bercerita seperti biasa.
Aku melangkah masuk ke pekarangan
rumah. Dari kejauhan, aku dapat melihat sepupu kecilku termenung, menatap
kosong ke arah aku berjalan. Ia menyandarkan wajah dan tangannya di atas railing
tangga.
“Nadiyya? Kenapa belum m-masuk?”
ucapanku terpotong saat melihat air mata mengalir menyusuri pipi mungilnya.
Deg. Jantungku seakan berhenti
berdetak.
‘Gak, kakek lagi duduk di
ruang tamu kayak biasa, kok. Ayo kita masuk,’ batinku menolak
lagi dan lagi. Walau sebenarnya, kegelisahan perlahan menggerogoti jiwaku
setelah melihat ekspresi Nadiyya semenit yang lalu.
Deg.
‘I-itu… Kakek?’
aku diam seribu bahasa.
Kakiku seperti kehilangan cara untuk
berjalan. Tulangku seolah rontok ditelan kenyataan dan hatiku hancur melihat
sosoknya tak seperti yang aku harapkan.
Seisi rumah penuh dengan jiwa-jiwa
yang memendam rindu, mengelilingi tubuhnya yang terkapar kaku di atas kasur -di
pinggir ruangan- dan aku berdiri di ambang pintu melihat jasadnya dari
kejauhan.
“Lihatlah kakek sebelum dikubur,
Nak…” ucap pamanku.
Aku mendekat, kakiku lemas tak
berdaya, tubuhku terduduk di samping jasadnya. Seluruh memori bersama sosok
yang jiwanya telah pergi dipanggil pemilik alam itu, seolah berputar bagai
gulungan roll film yang ujungnya tak menentu.
Kenyataan yang selama semalam ini aku
tolak, kabar buruk yang membuat jiwaku sesak, aku telah memastikannya dengan
mata kepalaku sendiri. Mau tak mau, siap tak siap, aku harus menerimanya. Ini
sudah menjadi takdir Sang Pencipta, 50.000 tahun yang lalu sebelum langit dan bumi diciptakan oleh-Nya.
Detik itu, akhirnya aku percaya.
Kakek benar-benar dipanggil Yang Maha Penyayang, di bulan Ramadhan yang
istimewa, di hari Jum’at, waktu yang paling indah yang telah ditetapkan
oleh-Nya.
Aku memegang erat pinggir kasur,
mencium dahi kakek yang dingin. Tak peduli dengan air mataku yang perlahan
mengalir jatuh ke atas dahi kakunya itu. Aku cukup hancur, tidak, aku sungguh
hancur. Kenyataan bahwa aku tak bisa ikut menyalatkan jenazahnya adalah hal
terburuk di hari itu.
Ah, bagaimana kabar ayah, ya? Mataku
yang basah menatap pundak ayah yang membelakangiku. Ia sedang memeluk paman, saling
mengalirkan kekuatan, merangkul satu sama lain untuk bertahan. Aku tahu, di
balik punggung dua pria itu, kabar duka kepergian kakekku menjadi luka yang
membalut kenangan hidupnya bersama sang ayah tercinta. Pasti hati mereka sesak
sekali, jauh lebih sesak dari apa yang aku -anak kecil ini- rasakan.
‘Rabb, inikah yang
orang-orang sebut kehilangan? Rasanya jauh menyakitkan.’
Aku tahu, sebenarnya, jiwa-jiwa yang
dipanggil pemiliknya itu, mereka hanya sedang kembali. Namun, bagi hati yang
menganggapnya berharga, bagi insan-insan yang memeluknya dengan kenangan penuh
cinta, rasanya mereka pergi menghilang selamanya.
***
Hampir lima tahun berlalu. Padang, kota dengan beribu kenangan yang
memelukku sejak kecil, kota tempat pertama kalinya aku merasakan kehilangan
orang yang kusayang, dan kota tempat aku belajar banyak hal.
Untuk
kedua kalinya, Padang menggores luka dalam hatiku. Pertama, saat kakek pergi
dipanggil Sang Kuasa. Kedua, saat ini. Ya, detik ini. Luka yang hanya sekedar
goresan bagiku, mungkin bagai luka robek di sudut terdalam hati nenekku -istri
tercinta almarhum kakek-.
Mata
penuh tatapan sendu itu dengan halus menusuk hatiku. Kucium pipinya yang telah
berkeriput, 80 tahun ia hidup, 80 tahun pula kenangan itu berputar di benaknya
saat mendengar kabar duka kakak laki-lakinya. Lima tahun yang lalu kehilangan
suami tercinta, hari ini ia harus melepas sosok abang yang memenuhi kenangan
masa kecilnya. Terlalu pilu untuk mendengar kisah kakak beliau, terlalu lemah
hatiku untuk melihat air mata dan mendengar suara seraknya memanggil, 'Abang...
abang...’
Sore
itu, nenek pergi dengan pamanku. Tak peduli akan seberapa sakit kakinya selama
perjalanan panjang di mobil, ia tetap teguh untuk pergi melepas abangnya,
memenuhi rindu yang tak sempat terpenuhi untuk terakhir kalinya. Alhasil, nenek
tak bisa melambaikan tangannya seperti biasa saat keluargaku hendak pulang ke Pulau Jawa. Tak apa, aku lebih khawatir kondisinya di sana. Apa beliau
baik-baik saja selama perjalanan?
Kalau
aku mengingat bagaimana untuk pertama kalinya aku merasakan kehilangan di kota
ini, kalau aku tidak membentengi diriku dengan tauhid, aku mungkin akan
tenggelam dalam sendu. Walau aku yakin, nenek jauh lebih mengerti tentang rasa
kehilangan itu, aku tetap menyesal karena tak memeluknya saat melepas ia pergi
ke tempat sang kakak yang telah berpulang pada pemilik alam semesta.
Kehilangan terlalu menyakitkan, terlebih manusia seringkali merasa memiliki karena masa-masa indah yang mereka kenang, karena rasa sayang yang terlampau dalam, dan hati yang terlalu rapuh untuk ditinggal. Menerima kepergian sosok yang kita sayang, tak semudah itu. Tak semudah itu untuk sabar, tak semudah itu untuk tabah, tak semudah itu untuk bisa berada ditahap benar-benar ikhlas.
***
‘Ya Rabb, mungkinkah ini yang ingin kau sampaikan padaku?’ Aku yakin ada lebih banyak hikmah di balik
kehendak-Mu dari sedikitnya yang aku temukan. Tolong beri aku kekuatan untuk
menerima segala ketetapan-Mu, tolong lindungi hatiku agar tak tersesat di
tengah lautan air mata sendu.
Pada
akhirnya, kita tak memiliki apa pun di dunia ini, bahkan tubuh kita sekali pun.
Orang-orang yang kita sayang, semua hal yang kita dapatkan adalah amanah yang
Allah titipkan, dan sewaktu-waktu Allah akan mengambil kembali milik-Nya sesuai
kehendak-Nya. Memang berat,
memang sakit. Namun, Allah bersama hamba-Nya yang sabar.
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai
penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)
Semoga
Yang Maha Penyayang senantiasa melindungi Nenek, juga melapangkan tempat peristirahatan
di balik tanah bagi Kakek.
Komentar
Posting Komentar