Tazkiyatun Nafs

بسم الله الرّحمن الرّحيم


Tazkiyatun Nafs

Short Story by Maryam Mumtaazah

Malam yang sunyi, gelapnya langit dengan bintang-bintang yang mengerlap terlihat begitu indah. Lantunan ayat suci dari sang imam memecahkan keheningan malam, membawa  jiwaku yang lelah pada kedamaian dan ketenangan yang begitu nyaman.

Tepat setelah salam dan doa di ujung salatnya, wanita paruh baya di sebelahku mengelus  lembut punggung tubuhku. Ia tersenyum dengan senyuman yang begitu teduh. Matanya sayu,  menyimpan beribu cerita dan air mata yang tak terbaca olehku. Seolah bicara bahwa ada kalam-kalam indah yang ingin ia sampaikan padaku. Sosok yang kuat, penyabar, dan  mampu meluluhkan hati ini dengan begitu halus. Aku menyandarkan kepalaku di pundaknya,  tangannya mengelus kepalaku dari belakang. Malam itu, ia berbicara tentang hati dan  jiwa. Tentang jawaban dari suara hati para insan yang selalu bertanya-tanya, ‘Bagaimana cara  membersihkan hati agar jiwaku tenang dan damai dalam menjalani kehidupan ini?’  

Pertama, tauhid. Tauhid itu kunci pokok penyucian jiwa, Nak. Seseorang yang  benar-benar mengenal Rabbnya akan tunduk kepada Allah dalam rububiyah, uluhiyah, dan  asma wa sifat-Nya. Mereka yakin bahwa segala hal dan ujian yang datang dalam kehidupan  mereka adalah ketetapan Sang Pencipta yang justru membuat mereka mengintrospeksi  diri, bukan berburuk sangka pada Sang Maha Kuasa,” ucapnya dengan lembut. Aku mendengar dengan saksama setiap kalimat yang ia ucapkan padaku. Perumpamaan  yang ia gambarkan dan pepatah indah yang ia tuturkan, membuat hati ini terpikat pada setiap  kalam yang akan ia lontarkan.  

Kedua, berdoa. Orang yang tunduk kepada Allah akan sering berdoa kepada-Nya  karena mereka hanya bersandar kepada Allah, Nak. Mereka tahu bahwa doa adalah salah satu  ibadah yang paling mulia di sisi Allah. Ibadah yang akan membuka banyak pintu-pintu kebaikan  dan menjadi jalan untuk menguatkan hati mereka dalam menghadapi ujian yang menimpa  kehidupan mereka,” lanjutnya.  Aku terpaku, kata ‘bersandar’ dalam kalimat yang ia ucapkan menyadarkanku pada  mulia dan indahnya doa. Di dalam doa, seorang hamba akan mengagungkan Rabbnya. Ia akan  menampakkan kelemahan dirinya, membuktikan bahwa ia hanya memohon dan bersandar  kepada Allah semata. Doa adalah bentuk pengakuan seorang hamba atas kekuasaan dan  kebesaran Rabbnya, juga salah satu faktor yang membuat hati kita semakin kuat dan dekat  dengan Sang Maha Pencipta.

Ketiga, membaca kalamullah. Al-Quran itu kalam terindah, Nak. Orang yang  menghafal Al-Quran dan mengamalkan isinya, akan tampak padanya akhlak mulia. Setiap  perbuatan yang ia lakukan akan mencerminkan isi Al-Quran. Mereka tidak banyak tertawa dan  makan. Mereka benar-benar mengamalkan ilmu yang mereka dapatkan,” ucapnya sambil  menatapku dengan tersenyum. Hatiku bergetar, mencerna setiap kata demi kata yang baru saja  aku dengar.  

“Kaidah yang keempat, menjadikan Rasulullah shallallahu alaihi wa salam sebagai  teladan dan panutan dalam kehidupan. Nak, jika kita ingin hati dan jiwa kita bersih,  bersungguh-sungguhlah dalam mengikuti dan meneladani Rasulullah. Amalkan sunnah-sunnah yang beliau ajarkan, Nak. Beliau adalah panutan terbaik.  Beliau sangat mencintai umatnya melebihi kecintaan umatnya terhadap dirinya sendiri,”  ujarnya padaku yang sedari tadi terus memandanginya dengan mata yang berkaca-kaca.  Semakin banyak nasihat yang ia sampaikan padaku, semakin tersentuh hatiku.  

Kelima, membersihkan segala kotoran-kotoran dalam hati. Sebelum menghiasi hati  kita dengan ketaatan dan amalan-amalan yang mendekatkan diri kita pada-Nya, kita harus  membersihkan segala hal yang menjadi pengotor hati kita, Nak. Setelah itu, hiasilah diri kita dengan amalan-amalan yang dapat mendekatkan hati dan jiwa kita pada Allah subhanahu wa  ta’ala,” lanjutnya. ‘Ya Rabb.. Berapa banyak dosa yang telah mengotori hatiku?’ ucapku dalam  hati sambil menahan tangis.  

“Kaidah yang keenam, menutup segala pintu yang dapat merusak dan mengeluarkan kita  dari kesucian jiwa. Kita harus menjauhi segala perkara yang dapat menjerumuskan diri kita  dalam kemaksiatan dan hal-hal yang tidak bermanfaat,” ujarnya padaku.  

“Kaidah yang ketujuh, sering-sering mengingat pemutus kelezatan. Yaitu kematian, Nak.  Ketika kita mengingat kematian, maka kita akan terus berusaha beramal dengan baik karena  kita sadar bahwa kematian dapat datang kapan saja. Bisa jadi, ibadah yang sedang kita lakukan  menjadi ibadah terakhir sebelum kita menutup usia. Dengan mengingat kematian, hati yang lalai  akan tersadar dan hati yang mati menjadi hidup,” ucapnya. ‘Aku ingin menangis!’ gemuruh suara hatiku. Sedari tadi mataku berkaca-kaca,  menyadari betapa baiknya Sang Maha Pencipta. Aku sadar, nasihat yang aku dengar malam ini  adalah karunia dan nikmat yang sangat besar dari-Nya. Allah menegurku dengan cara yang  paling lembut. Padahal aku banyak berdosa dan aku belum pandai bersyukur dengan sempurna  pada-Nya. 

Kedelapan, selektif dalam memilih teman. Bertemanlah dengan teman yang baik.  Teman yang dapat membawa kita pada ketaatan dan membuat kita lebih dekat dengan  Allah. Rasul shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa seseorang itu sesuai  dengan agama sahabatnya. Oleh karena itu perhatikan siapa yang menjadi sahabat kita, Nak,”  lanjutnya. Bulir-bulir air mataku terjatuh, perlahan menetes menyusuri pipiku. Pecah sudah air  mata yang sedari tadi aku bendung. Nasihat darinya yang terlalu indah dan lembut menembus  sanubariku.  

“Kaidah yang kesembilan, kita harus waspada. Jangan sampai kita ujub dan tertipu diri sendiri karena amalan-amalan yang telah kita lakukan. Jangan memuji diri karena memuji diri  sendiri merupakan salah satu penyebab timbulnya ujub dan riya yang dapat merusak amal kita.  Hati-hati ya, Nak,” tuturnya.  

“Kaidah terakhir, mengenal hakikat jiwa dan sifat-sifatnya. Kaidah ini penting agar  kita dapat menjaga, melindungi, dan mengobati hati serta jiwa kita dari berbagai macam  penyakit. Ada tiga sifat jiwa yang Allah sebutkan. Pertama, jiwa yang mantap dengan  keimanan, mengingat Allah Ta’ala, beribadah, dan selalu kembali kepada Allah Ta’ala. Yang  kedua, jiwa yang mencela pemiliknya karena melakukan dosa (kesalahan) dan meremehkan  kewajiban atau ketaatan. Yang terakhir, jiwa yang mendorong pemiliknya untuk mengerjakan  hal haram, dosa, dan menuntunnya menuju tempat-tempat yang munkar dan hina.  Namun, sifat-sifat jiwa tersebut dapat berubah-rubah sesuai kondisi kita. Semoga Allah  selalu melindungi kita ya, Nak.” ucapnya lembut menutup percakapan sambil mengusap  pipiku yang basah.  

Malam itu, bagaikan malam muhasabah untukku. Aku menangis. Mataku sembab,  hidungku merah. Kaidah-kaidah yang ia uraikan membuatku terus mengintrospeksi diri dari  berbagai sisi. Ia membawaku melihat indahnya agama ini dengan begitu luas dan  menyadarkanku pada banyak hal penting yang sering terlupakan.  


Rangkuman Tazkiyatun Nafs 

(10 kaidah penyucian jiwa)

  1. Tauhid (pokok penyucian jiwa).
  2. Berdoa kepada Allah.
  3. Membaca Al-Quran.
  4. Menjadikan Rasulullah sebagai teladan & panutan.
  5. Takhalli (membersihkan diri dari segala macam pengotor hati) dan Tahalli (menghiasi diri dengan berbagai amalan yang dicintai-Nya).
  6. Menutup segala pintu yang dapat menjerumuskan dalam maksiat dan dosa atau pengotor hati.
  7. Memperbanyak mengingat kematian.
  8. Selektif memilih teman.
  9. Waspada terhadap ujub dan tertipu diri sendiri.
  10. Mengenal hakikat jiwa & sifat-sifatnya.
Hi! It's me, Maryam. Semoga cerita singkat ini dapat menjadi inspirasi dan awal untuk kita agar semakin semangat memperbaiki diri. Cerita di atas tidak dibuat sengaja untuk dipublish ke blog pribadi ini, melainkan tugas sekolah di akhir semester satu kelas sepuluh. Fun fact, cerita tersebut merupakan kisah nyata yang dikemas dengan berbagai rangkaian kalimat yang dibuat seindah dan sesederhana mungkin. Cerpen ini dibuat dengan bimbingan dan dukungan kakak-kakak pemateri seminar yang sudah mencetak banyak karya ternama, guru bahasa Indonesia, orang tua dan keluarga, juga teman-teman yang super suportif. Alhamdulillah, dengan izin Allah tugas menulis cerpen ini dapat diselesaikan dan dikumpulkan tepat waktu. Hopefully, karya ini bisa bermanfaat untuk banyak orang. Thank you for reading my blog!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

About Loss

His Plans

Aqidah