Nuclear Disaster
بسم الله الرّحمن الرّحيم
Mimpi buruk penduduk Fukushima
News Feature by Maryam Mumtaazah (Tugas pelatihan KBPB)
Fukushima Daiichi Nuclear Disaster atau bencana nuklir Fukushima Daiichi merupakan salah satu bencana nuklir terparah di dunia sepanjang sejarah. Fukushima, tempat di mana salah satu dari 25 pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di dunia berada, hancur bagaikan mimpi buruk bagi para penduduknya dan korban insiden tersebut. Gempa dengan magnitudo sembilan yang disusul oleh tsunami besar datang menghantam kota tempat mereka lahir dan dibesarkan. Kota yang dahulu dipenuhi kenangan indah sejak mereka kecil itu justru membawa trauma yang tak akan pernah mereka lupakan seumur hidup.
Gempa dahsyat dan gelombang tsunami yang menyapu kota Fukushima pada tanggal 11 Maret 2011 memicu terjadinya insiden energi di pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima I atau yang lebih dikenal dengan Fukushima Daiichi. Gempa tersebut merupakan gempa yang terbesar dalam 1000 tahun, bahkan lebih parah dibanding gempa Kanto yang terjadi pada tahun 1923. Kekuatan gempa yang begitu besar membuat pesisir Jepang bergeser sejauh 2,5 meter ke arah timur dan permukaannya menurun sejauh satu meter. Selain itu, gelombang gempa juga dirasakan oleh beberapa negara lain, seperti China, Amerika Serikat, dan Kuba.
Tercatat gelombang tsunami terbesar adalah 13 meter dan mencapai 50 menit setelah gempa awal. Tsunami yang terjadi akibat gempa tersebut membanjiri pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi dan menyebabkan suhu di pembangkit naik menjadi terlalu panas. Selain itu, tsunami juga menghancurkan generator darurat yang terletak di kamar rendah. Padahal, seharusnya generator tersebutlah yang menyediakan daya untuk mengoperasikan pompa agar dapat mendinginkan reaktor.
Pembangkit listrik tenaga nuklir yang didesain oleh General Electric (GE) dan dikelola oleh Tokyo Electric Power Company (TEPCO) tersebut, memiliki enam unit terpisah dengan jumlah tenaga 4,7 gigawatt (GW). Pada saat gempa bumi terjadi, reaktor 4, 5, dan 6 ditutup dalam persiapan untuk bahan bakar ulang. Namun, kolam bahan bakar bekas masih perlu didinginkan. Akibat kegagalan dalam pendinginan, terjadi tiga krisis nuklir, yaitu ledakan hidrogen-udara dan terjadi pelepasan bahan radioaktif di unit 1, 2, dan 3 dari tanggal 12 Maret sampai 15 Maret 2011. Selain itu, pendinginan yang tidak memenuhi syarat juga menyebabkan kolam penyimpanan bahan bakar pada reaktor 4 menjadi terlalu panas akibat panas dari batang bahan bakar.
Bencana nuklir Fukushima merupakan insiden nuklir yang paling parah sejak 26 April 1986 yaitu bencana Chernobyl. Jepang mengklasifikasikan insiden ini sebagai tingkat 7 pada Peristiwa Nuklir Skala Internasional, artinya terdapat kebocoran radiasi yang dapat berdampak secara signifikan pada kesehatan dan lingkungan. Dikutip dari World Health Organization (WHO) tentang konsekuensi kesehatan dari kecelakaan nuklir Fukushima, bahwa korban dari insiden ini menderita dampak psikososial, kesehatan mental setelah relokasi, dan terjadi gangguan stres pasca-trauma (PTSD). Selain itu, dilaporkan juga bahwa anak-anak Fukushima yang dievakuasi mengalami masalah psikologis seperti hiperaktivitas, gejala emosional, dan gangguan tingkah laku. WHO secara khusus menilai risiko kanker tiroid, risiko terbesar ditemukan pada anak perempuan yang terpapar radiasi pada saat masih bayi atau berumur dibawah satu tahun di daerah yang paling terkena dampak di prefektur Fukushima. Selain masalah kesehatan, kecelakaan nuklir ini juga sangat berdampak pada lingkungan dan sumber daya di sekitarnya. TEPCO, operator dari reaktor PLTN tersebut menyatakan bahwa ada sekitar 45 ton air yang terkontaminasi oleh zat radioaktif yang dapat berdampak bagi kesehatan manusia dan ekosistem laut. Banyak tanaman dan hewan ternak yang juga tercemar akibat ledakan hidrogen-udara dan pelepasan bahan radioaktif yang terjadi pada insiden ini.
Meskipun bencana gempa bumi dan tsunami yang menimpa Jepang saat itu tidak bisa diprediksi, sebagian pakar menyebutkan bahwa seharusnya kebocoran nuklir bisa dihindari. Kota harapan yang dahulu penuh hiruk-pikuk itu kini mati menjadi kota hantu tak berpenghuni akibat tiga bencana dahsyat yang terjadi secara berurutan di wilayah tersebut, yakni gempa bumi, tsunami, dan bencana nuklir.
Identitas
Nama penulis : Maryam Mumtaazah
Nomor presensi : 44
Asal sekolah : SMAIT Putri Al-Hanif
Daftar Pustaka (Sumber & Referensi)
Komentar
Posting Komentar