بسم الله الرّحمن الرّحيم
Sebelum Pangeran Berkuda Putih Itu Datang
Maryam's Talk
Banyak temanku bertanya,
“Maryam pernah fall in love, gak sih?”
“Hmm, kalau jatuh cinta gitu gak, gak pernah.” jawabku. ['belum' pernah sih lebih tepatnya]
Ada orang yang bilang mustahil, ada juga sebagian dari mereka merasakan hal yang sama denganku. Aku rasa, untuk saat ini aku belum siap untuk jatuh cinta pada makhluk-Nya. Sekarang, aku lebih butuh rasa cinta untuk mengejar cinta-Nya. Artinya rasa cinta seorang hamba pada Rabbnya dan Rabbnya pun mencintai hamba tersebut. Aku lebih butuh itu, jauh lebih membutuhkan itu.
“Masa sih, gak pernah suka sama seseorang?”
“Jatuh cinta dan rasa suka itu berbeda. Kalau suka mungkin semua orang juga pernah merasakannya, tapi suka dalam artian ku hanya sekedar mengagumi seseorang dari kualitas dirinya.”
Admiring someone adalah hal yang normal. Tapi yang harus kita perhatikan adalah bagaimana kita menyikapi rasa suka yang datang ke dalam hati kita. Karena rasa suka dapat menjadi awal dari cinta. Akankah kita membiarkan perasaan suka itu berkembang menjadi cinta yang tak diridhoi-Nya? Atau kita langsung mengembalikan hati kita pada yang menciptakannya? Di sinilah letak kita diuji, maka jagalah hati dan kehormatan kita sebagai wanita muslimah. Karena menjaga kehormatan adalah hak Allah yang menciptakan kita.
"Bagaimana jika terlanjur jatuh hati pada seseorang?"
(1) Kalau belum siap menikah, tinggalkan ia- jangan biarkan rasa cinta itu menjadi cinta yang diharamkan-Nya (maksudnya adalah jangan sampai berzina/pacaran). Bila ingin menunggu, maka tunggulah ia datang sambil memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri pada Sang Pemilik Hati. Jaga pandangan dan kehormatan. Namun, (2) Jika sudah siap membangun istana, katakanlah yang sejujurnya pada orang tua atau wali kita. Sehingga mereka bisa mempertemukan kita secara serius dengan orang itu (ambillah pelajaran dari kisah ibunda Khadijah dan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam). Mengapa kita harus berterus terang pada wali kita? Karena dikhawatirkan kalau dipendam terus-menerus dapat menimbulkan zina.
"Tipe kamu kayak gimana?"
Aku gak pernah menetapkan suatu tipe di luar kendaliku (terlalu muluk). Tipeku realistis kok, yang penting dia se-manhaj, imannya kuat, kualitas agama, akhlak, dan ibadahnya minimal sama sepertiku. Tentu saja akan lebih baik jika sosok pangeran itu punya kualitas agama yang lebih tinggi dariku. Simpelnya gini: Kalau aku penghafal Al-Quran, bukankah wajar jika aku juga menginginkan sosok seorang penghafal Al-Quran? Dalam Islam, mencari pasangan itu yang sekufu atau sepadan; baik dalam masalah agama, sosial, maupun ekonomi. Kalau gak sepadan gimana? Yaa.. berarti butuh ekstra buat adaptasi. Kalau temen-temen pengen tau lebih detail maksudnya sekufu itu gimana, bisa cek video ini yaa. Secara habits siapa sih yang gak mau punya pasangan yang bisa menularkan banyak good habits nya ke kita? Tapi setiap orang pasti punya sisi baik dan sisi buruknya masing-masing. Aku gak pernah menetapkan bahwa pangeran itu harus perfect, buktinya aku sendiri pun tak sempurna.
Aku tak ingin terlalu sibuk memikirkan sosok “pangeran” yang akan mendampingiku, aku lebih memikirkan bagaimana menjadi seorang “putri” yang semestinya, yang kelak bisa menjaga dan mempertahankan istana yang akan ia bangun bersama dengan sang pangeran. Aku selalu berdoa dan berharap agar kelak pangeran itu dapat membangun istananya bersamaku sampai ke surga. Dalam artian, dia punya iman berkualitas tinggi dalam dirinya, dia tahu bagaimana menjadi sosok pemimpin yang bijak dan berwibawa dalam istananya sehingga ketika sang “pangeran” menjadi “raja” dan aku menjadi “ratu”, suasana istana yang tercipta untuk pangeran atau putri kecil adalah suasana yang baik, yang dapat mendukung pertumbuhan mereka kelak dengan baik pula. Dan di dalam istana itu ada madrasah yang akan memupuk iman dalam hati mereka, sehingga jadilah mereka penerus yang religius dan bertakwa.
Yang kini aku benahi dalam masalah ini adalah, "Apa yang harus aku persiapkan sebelum pangeran berkuda putih itu datang? Sifat apa saja yang harus aku miliki untuk membangun dan menjaga istanaku kelak?" Kemarin aku belajar, dan yap, mempersiapkan iman, mental, ketakwaan, dan ilmu yang akan kita bawa saat kita dijemput oleh pangeran kita masing-masing adalah hal yang jauh lebih penting dari "sosok pangeran" itu sendiri. Hari-hari setelah pernikahan akan jauh lebih berat dari hari dilangsungkannya akad nikah. Aku percaya, bahwa pangeran yang baik untuk putri yang baik, dan pangeran yang buruk untuk putri yang buruk. Maka tugasku adalah bagaimana menjadi putri yang baik sehingga yang menjemputku kelak adalah pangeran yang baik pula.
Kadang kita terlalu terlena dengan dunia, sampai lupa bahwa yang menjemput kita bukan hanya pangeran berkuda putih. Bisa saja malaikat maut lebih dulu menjemput saat pangeran itu masih sibuk di perjalanan. Oleh karena itu, fokuslah untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga Allah senantiasa melindungi kita dan menjadikan kita istiqomah dalam ketaatan. Aamiin Allahumma Aamiin..
Komentar
Posting Komentar