Be Grateful
بسم الله الرّحمن الرّحيم
3 Kunci Bersyukur
Ust. Muhammad Nuzul Dzikri
Assalamualaikum, hai! Balik lagi dengan episode catatan kajian Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, teman-teman! Hari ini kita akan membahas tentang kunci atau pondasi dalam bersyukur dari Al-Imam Ibnul Qoyyim.
Sebelum itu, temen-temen sadar gak sih? Kalau sebenarnya kehidupan kita sebagai seorang hamba itu berputar (berpindah-pindah) dalam tiga kondisi atau keadaan seperti yang Imam Ibnul Qoyyim sampaikan; Keadaan yang pertama adalah saat kita mendapatkan nikmat dari Allah subhanahu wa ta’ala, entah nikmat berupa islam, ibadah, waktu luang, keluarga, lingkungan, pendidikan, kesehatan, dan masih banyak lagi. Kondisi yang kedua adalah saat kita tertimpa musibah dan kondisi yang ketiga adalah saat kita terjatuh dalam kemaksiatan. Bagaimana cara menghadapi setiap perputaran kondisi tersebut? Tentu saja ada kuncinya. Ketika kita mendapat nikmat hendaknya kita bersyukur, ketika kita mendapat musibah maka kita bersabar, dan saat terjatuh dalam kemaksiatan hendaknya kita segera beristighfar dan kembali kepada Allah. Yap, kalau diringkas kunci kebahagiaan itu; bersyukur, bersabar, dan beristighfar.
Kalau kita ingin nikmat yang kita dapatkan itu gak hilang, maka solusinya adalah dengan bersyukur, karena pengikat nikmat adalah dengan bersyukur. Nah, sekarang pertanyaannya, “Bagaimana cara bersyukur? Sebenarnya apa saja sih yang menjadi kunci dan pondasi dalam mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepada kita? Apakah hanya sekedar dengan mengucapkan hamdalah?” Al-Imam Ibnul Qoyyim berkata bahwa bersyukur itu dibangun di atas tiga pondasi atau tiga rukun;
1. Kita mengakui nikmat tersebut di dalam batin (hati kita).
Mengakui dalam hati bahwa nikmat yang kita peroleh adalah dari Allah semata. Dan pengakuan itu (harus) melahirkan rasa tunduk kepada Allah, rasa kecil dan hina diri di hadapan Allah, dan rasa cinta (mahabbah) kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Jadi, nikmat yang kita dapatkan itu dari Allah, bukan karena effort, kemampuan, usaha, atau perjuangan kita. Karena kalau melihat usaha, mungkin ada orang yang usahanya lebih keras dari kita dan ngga dapat apa yang dia inginkan, atau bahkan ada orang yang gak usaha sama sekali tapi Allah kasih nikmat tersebut. Bukankah ada orang yang saat baru lahir langsung kaya karena harta orang tuanya? Bukankah kita saat baru lahir tanpa usaha apapun langsung mendapatkan nikmat Islam? Ada orang yang lebih pantas dari kita, tapi Allah gak kasih nikmat yang kita dapatkan ini ke orang tersebut. Sebagai contoh, Abu Thalib (paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) atau Abdul Muthalib (kakek beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang sangat berkontribusi, mendukung, dan membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan dakwah beliau. Bukankah keduanya merupakan orang yang sangat dekat dengan Nabi dan lebih pantas mendapatkan nikmat Islam dibandingkan dengan kita? Tapi nyatanya, Allah tidak memberikan nikmat Islam yang kita dapatkan sejak lahir kepada dua orang yang sangat Rasulullah cintai tersebut bahkan sampai keduanya wafat. Karena itulah, kita harus banyak-banyak bersyukur.
Yuk, resapi bersama. Akui bahwa semua nikmat yang kita dapatkan adalah dari Allah, kasih sayang Allah pada kita. Pernahkah kita berpikir, "Kenapa Allah kasih nikmat ini ke aku ya? Kenapa gak ke orang itu ya?" Allah memberikan nikmat tersebut kepada kita, di saat ada banyak orang yang lebih menginginkannya. Artinya Allah memilih kita, mungkin banyak orang di luar sana ingin berada di posisi kita. Maka sudah sepatutnya kita bersyukur bukan?
2. Senantiasa membicarakan nikmat tersebut secara dzohir.
Artinya lisan kita senantiasa mengucapkan hamdalah, memuji Allah yang memberikan nikmat kepada kita. Hendaknya lisan kita senantiasa basah dengan berdzikir pada-Nya. Untuk sampai di pondasi kedua ini kita harus mengakui nikmat tersebut dari Allah terlebih dahulu, atau melewati pondasi pertama. Bagaimana kita bisa memuji Allah kalau belum mengakui bahwa nikmat yang kita dapat adalah dari-Nya?
Temen-temen, seberat apapun masalah di dalam hidup kita, seberapa sulit musibah yang menimpa kita, kita gak boleh meninggalkan sholat. Karena di dalam sholat, di setiap rakaat, kita wajib membaca Al-Fatihah. Dan ayat pertama dalam surat Al-Fatihah adalah pujian kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kalau kita resapi ayat pertama dalam surat Al-Fatihah selagi sholat, dengan membayangkan nikmat-nikmat yang telah Allah beri dan kita justru membalasnya dengan dosa-dosa dan kemaksiatan, mungkin tanpa sadar air mata kita akan terjatuh. Lagipula bukankah tidak pantas untuk kita berpaling dan mengabaikan panggilan-Nya yang telah memberikan kita berlimpah nikmat, rahmat, dan kasih sayang-Nya? Padahal Allah hanya memanggil kita lima kali dalam sehari (sholat). Seharusnya kita yang berlari pada-Nya, bukan?
3. Menggunakan nikmat yang Allah berikan tersebut untuk mencari Ridha-Nya.
Ketika seseorang memang benar-benar bersyukur, maka dia akan memanfaatkan nikmat yang ia dapatkan tersebut untuk hal-hal yang Allah ridhai dan untuk mencari ridha-Nya. Karena itulah pada pondasi pertama, yaitu dalam mengakui nikmat yang kita dapat dari Allah, pengakuan tersebut “harus” melahirkan rasa tunduk, hina diri di hadapan-Nya, dan mahabbah (rasa cinta) pada Allah. Kalau kita sudah cinta, otomatis kita akan tunduk pada yang kita cintai bukan? Begitulah ketika kita cinta pada-Nya, maka kita akan tunduk dan mencari ridha-Nya. Kita akan menggunakan atau memanfaatkan nikmat yang telah Allah berikan tersebut untuk hal-hal yang diridhai-Nya. Dan dengan perasaan hina diri di hadapan-Nya, kita tidak bisa merasa ujub (berbangga diri).
Teman-teman sadar gak sih? Menutup aurat, tidak mengumbar-ngumbar nikmat berupa kecantikan yang telah Allah berikan kepada kita merupakan salah satu bentuk syukur kita terhadap nikmat tersebut. Maka, jagalah aurat kita, jangan kita gunakan kecantikan tersebut untuk hal-hal yang tidak diridhai-Nya, seperti mengundang fitnah dan syahwat bagi para ikhwan.
Nah, kalau kita buat skema tiga pondasi dalam bersyukur yang sudah kita bahas di atas. Kurang lebih singkatnya gini;
1.) Kita mengakui bahwa nikmat yang kita dapat adalah pemberian dari Allah, sehingga lahir perasaan tunduk pada-Nya, hina diri di hadapan-Nya, dan rasa cinta pada-Nya. -> 2.) Setelah mengakui nikmat tersebut maka kita akan memuji yang memberikannya, yang memberikan nikmat tersebut kepada kita, yaitu Allah subhanahu wa ta'ala. -> 3.) Karena muncul perasaan hina diri, cinta, dan tunduk pada-Nya dari pondasi pertama, maka kita akan memanfaatkan nikmat dari-Nya (yang kita cintai) dalam hal-hal yang diridhai-Nya dan untuk mencari ridha-Nya.
Kalau kita pahami bersama, ternyata pondasi-pondasi tersebut saling berhubungan ya? Jadi, ketika kita sedang berada dalam kondisi mendapatkan kenikmatan, kita perlu mensyukurinya dengan hati (pondasi pertama), mensyukuri secara dzohir dengan lisan (pondasi kedua), dan dengan aksi (pondasi ketiga).
Al-Imam Ibnul Qoyyim berkata, “Jika seseorang berhasil melakukan tiga hal (kunci atau pondasi) bersyukur di atas, maka dia telah bersyukur kepada Allah dengan segala kekurangan dia dalam bersyukur.” Faedah yang dapat kita ambil dari perkataan beliau adalah bahwa sehebat-hebat kita dalam bersyukur kita gak bisa bersyukur dengan sempurna. Jangan sampai dengan kita bersyukur menjadi ujub (bangga diri karena merasa sudah bersyukur), melainkan dengan bersyukur kita benar-benar merasa nol (merasa gak pantas dan kecil diri di hadapan Allah).
Nah, itu dia teman-teman tiga pondasi dalam bersyukur dari Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullahu ta’ala yang kita simak melalui video kajian Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri. Semoga kita termasuk hamba yang senantiasa bersyukur, ya! Aaamiin Allahumma Aamiin..
**Seperti biasa, untuk materi kajian lengkapnya bisa klik link di bawah judul! Selamat menonton.
Komentar
Posting Komentar